0
Dikirim pada 18 Oktober 2011 di ini ceritaku...

 

 

 

Awal 2009, pertama kali aku mengenal beliau ketika mengantarkan berkas formulir suruhan pegawai cabang di pemalang ke kantorku di pekalongan. Penampilannya begitu sederhana, peci hitam yang dipakainya agak miring, dan pakaiannya pun agak lusuh. Namanya begitu singkat dan unik, Bagdad. Alih-alih ingin menanyakan sejarah pemberian nama beliau, sampai sekarang masih ku simpan pertanyaan itu dalam hatiku. " Assalamu'alaykum, perkenalkan mas, saya pak bagdad mau nganter berkas", kata mbah bagdad. "o iya pak terimakasih, koq tumben njenengan yang nganter?", ucapku. "iya, pak tirmannya lagi sibuk, banyak tamu". " Oh gitu, ya udah pak, saya terima berkasnya. makasih banyak ya pak", ucapku lagi. " iya mas sama-sama".

 

Sejak saat itu, beberapa kali Mbah Bagdad selalu mengantarkan berkas formulir ke kantorku. Sampai suatu hari aku ingin tahu lebih lanjut tentang profil beliau. "Mbah punya anak berapa?", tanyaku. Beberapa detik simbah bagdad terdiam terpaku setelah mendengar pertanyaanku, aku jadi ga enak sendiri, apakah ada yang salah dengan pertanyaanya. Selang kemudian simbah menjawab, "gak punya mas". " o gitu, maaf ya pak", . " ya mas gapapa, ". matanya mulai merah dan berkaca-kaca, perasaanku ga enak karena secara tidak sengaja membuka tabir kegetiran kisah masa lalu beliau. "saya udah lama cerai sama istri saya mas, dan belum sempet punya anak. sekarang saya tinggal sendiri di rumah". kata mbah bagdad.

 

 


(belum selesai ^^)



Dikirim pada 18 Oktober 2011 di ini ceritaku...
comments powered by Disqus


connect with ABATASA